Minggu, 16 Mei 2010

Bisnis Plan Royal Crepes

Bagian 1 : Profil Bisnis
Keterangan bisnis saya
Martabak tipis renyah alias crepes semakin banyak peminatnya. Panganna Prancis ini mulai familier di indonesia sejak akhir 1990. Menawarkan kerenyahan crepes dengan harga terjangkau. Royal crepes menawarkan sekitar 34 rasa martabak renyah. Beberapa diantaranya adalah beef burger, sosis, pisang keju, stroberi, lemon, blueberry, dan kombinasi lainnya.
Royal crepes (Ijin DINKES P-IRT No. 3063272011070) merupakan usaha dagang yang bergerak di bidang makanan, didirikanoleh Bpk. Ferry Gunawan & istrinya, Ibu Macella Cindy Halim,S.E di Bandung pada bilan Desember 2005.
Pasar dan Nasabah yang Menjadi Sasaran
Royal Crepes memang lebih membidik pangsa anak sekolah, perumahan dan pusat keramaian. Cukup dengan membayar Rp 2.000 sampai Rp 3.500 pembeli bisa menikmati cemilan renyah buatan crepes.
Kecenderungan Pertumbuhan dalam Bisnis ini
Karena Royal Crepes mempunyai konsep berjualan di area sekolah, perumahan, dan pusat keramaian. Royal crepes difranchisekan sejak tahun 2007 dan mempunyai outlet 300 buah yang tersebar di 30 kota besar di Indonesia saat ini dan terus berkembang dengan harapan tercapai target dan membentuk brand atau produk dan bisnis yang disukai dan dikenal dari sabang sampai merauke.
Ketentuan Harga
Harga yang kompetitif dan terjangkau dengan kisaran Rp. 200 sampai Rp 3.500, dengan sekitar 34 rasa martabak renyah. Beberapa di antaranya adalah beef burger, sosis, pisang keju, stroberi, lemon, blueberry, dan kombinasi lainnya.
Disisi kualitas royal crepes memiliki daya tahan yang baik, sekarang di buat, dimakan besok pagipun masih terasa renyah. Soalnya peralatan dan adonan semuanya buat sendiri dan beda dengan yang lainnya.



Bagian 2 : Visi dan Orang
Kebanyakan orang merasa cukup puas dan aman jika mendapatkan penghasilan dengan menjadi karyawan. Lantas mengapa kita harus memiliki bisnis meski sudah mendapat pekerjaan yang bagus?
Sebuah survey Harvard membuktikan bahwa pada usia 65 yh, orang terbagi dalam beberapa keadaan sebagai berikut :
• 35 % meninggal dunia
• 5 % masih bekerja
• 4 % pensiun / tabungan pas – pasan
• 55 % miskin (tergantung pada anak, gelandangan, dll)
• 1 % kaya
Ternyata 1 % orang kaya tersebut berasal dari profesi sbb:
• 10 % CEO, Top Manager
• 10 % dokter ahli, pengacara, artis (profesional yang sukses)
• 5 % sales asuransi, sales rumah
• 1 % lain – lain (lotre, judi, undian)
• 74 % bisnis (pemilik usaha)
Apa itu bisnis? Bisnis adalah bukan sekedar jual produk / jasa tetapi ditambah dengan SISTEM. Bagaimana memiliki SISTEM? Menurut pakar bisnis Robert T. Kiyosaki ada 3 cara sbb:
1. Membuat sendiri (misal perusahaan, modal > 1 M)
2. Membeli waralaba (modal > 100 juta)
3. Mengikuti Network Markerting / MLM
Mengapa kita berbisnis?
Pertanyaan yang sebenarnya saat ini sangat penting, tetapi tidak mendapatkan perhatian yang serius oleh komunitas bangsa Indonesia. Komunitas bangsa yang memiliki jumlah penduduk sangat besar, bangsa yang memiliki kekayaan alam luar biasa banyak, dan bangsa yang cerdik pandai luar biasa besar jumlahnya, namun berpotensi menjadi negara gagal / negara bangkrut, negara miskin, karena terlilit kesulitan dan kemiskinan. Mengapa kita harus berbisnis?
Saya mencoba merangkai banyak informasi untuk mempertegas pentingnya anak-anak bangsa harus mulai belajar bisnis. Karena jika tidak, bangsa Indonesia yang besar, yang kaya sumberdaya alam, yang banyak memiliki cendekiawan-cendekiawan bergelar doktor, yang memiliki banyak universitas hingga ke pelosok-pelosok kabupaten dengan ribuan fakultas, akan menjadi bangsa penonton disebuah zaman.

Jadi pengusaha/pewirausaha? Nanti dulu, itu pekerjaan yang diharapkan banyak orang, tetapi kecelakaan.
Menyeramkan memang, apa yang akan terjadi oleh negeri ini karena jika penduduk sudah mencapai 228,9 juta jiwa, maka akan ada 168,9 juta jiwa atau 73,3 persen diantaranya merupakan penduduk usia kerja. Dari jumlah ini, 116,5 juta orang atau 69 persen dari penduduk usia kerja dipastikan menyerbu pasar kerja sehingga sangat "menakutkan" karena pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun mendatang belum jelas besarannya diangka berapa. Apalagi jika terorisme masih membayangi kondisi keamanan Indonesia dan ekonomi global belum pulih benar.Alamak. Kita seperti tidak sedang menghadapi situasi darurat dengan kondisi seperti ini! Mengutip data dari sebuah sumber yang menyajikan proyeksi data pengangguran terdidik Indonesia, membuat saya semakin bersemangat menuntaskan tulisan ini. Bahwa penting mengapa kita harus berbisnis/berwirausaha mulai sekarang.Setidakmya kita belajar memulainya. Saat ini jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia sudah mencapai 2.874 buah dengan jumlah sarjana yang dihasilkan setiap tahun diperkirakan mencapai 2,3 juta sarjana baru dari berbagai jurusan. Versi lain memproyeksikan bisa mencapai 2,8juta sarjana per tahun. Pertanyaannya berapa sarjana yang terserap untuk angkatan kerja. Dahulu, menurut sumber yang menjadi rujukan tulisan ini, seorang Menteri memperkirakan Indonesia setiap tahunnya membutuhkan setidaknya 75 ribu orang sarjana (meskipun ada yang menyebutnya pertumbuhan pegawai diharapkan nol persen karena beban biaya yang harus ditanggung oleh negara). Jika angka ini benar, berapa sarjana yang menganggur dalam setiap tahunnya?

Orang
Pengalaman kerja yang Terkait dengan Bisnis yang saya Minati
Sebagai technical support dalam suatu perusahaan Komputer dan memiliki pengalaman melayani apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pelanggan.
Riwayat Hidup Pribadi dan Pendidikan
Sudah menikah dan memiliki 2 (dua) orang putri, sebelum menjadi PNS pernah bekerja sebagai Technical Support pada perusahaan swasta dibidang komputer. Latar belakang pendidikan adalah Sarjana Komputer, jurusan Teknik Komputer.

Bagian 3 : Komunikasi
Komputer dan Alat Komunikasi
Jenis biaya Biaya tetap/bulan
1. Biaya Pesonalia 3 orang @ 1000000 3,000,000
2. Biaya penyusutan komputer dan Fax 380,000
3. Biaya telepon 150,000
4. Biaya langganan internet 150,000
5. Biaya fax 50,000
Total biaya 3,730,000
Aktiva

1. 1 Komputer 10,000,000
Komputer akan disusutkan selama 3 tahun
dengan penyusutan @ 280,000
2. Fax 1,000,000
Fax akan disusutkan selama 10 bulan
dengan penyusutan @ 100,000

Bagian 4 : Organisasi
Organisasi Bisnis

Konsultan Propesional
Sebagai permulaan yang diperlukan hanyalah notaris untuk pembuatan ijin dan bentuk usaha. Adapun konsultan-konsultan yang lain sudah disediakan oleh franchise tersebut.
Izin
Royal Crepes (Ijin DINKES P-IRT No. 3063272011070) merupakan usaha dagang yang bergerak dibidang makanan, didirikan oleh Bpk. Ferry Kurnia Gunawan, Ibu Marcella Cindy Halim,S.E di Bandung pada bulan Desember 2005.
Bagian 5 : Asuransi
Untuk jenis usaha yang kami buat asuransi bukanlah hal yang utama mengingat jenis usaha itu sendiri kurang bersinggung dengan resiko. Jikapun ada, pasti jumlah preminya amat sangat tidak material.
Bagian 6 : tanah dan Bangunan
Kriteria Lokasi
1. Kebutuhan ruangan
Dibutuhkan 1 ruangan untuk gudang penyimpanan bahan baku dan gerobak dan 1 ruangan lagi sebagai kantor untuk keperluan yang sifatnya administrasi.
2. Kebutuhan masa depan
Di masa depan seiring dengan pertumbuhan bisnis maka akan semakin banyak gerobak yang dimiliki maka semakin besar ruangan untuk penyimpanan bahan baku dan gerobak yang diperlukan.
3. Studi analisis lokasi, jika diperlukan
Lokasi akan diarahkan ke tempat2 seperti sekolah dan perumahan dimana terdapat banyak anak2 dan potensial market untuk crepes termasuk di depan toko serba ada (alfamart, Indomaret).
4. Studi demografis, jika diperlukan
Lokasi akan diarahkan ke tempat2 seperti sekolah dan perumahan dimana terdapat banyak anak2 dan potensial market untuk crepes termasuk di depan toko serba ada (alfamart, Indomaret).
5. Harga sewa
Tidak ada biaya sewa tetap dikarenakan menggunakan gerobak beca/mobile.
6. Perkiraan biaya okupansi dalam % penjualan
Non applicable / tidak relevan.

Pengendalian Internal
Tetap melaksanakan pasokan bahan baku yang menjadi standar kualitas produk, sehingga dapat mempertahankan rasa dan aroma sesuai selera konsumen. Melakukan pemeriksaan terhadap kebersihan.

Bagian 7 : Pembiayaan
Strategi Pembiayaan
Bersumber dari pinjaman Bank Rp. 40.000.000,- dan penyertaan modal pribadi sebesar Rp.15.000.000,-, sehingga total pembiayaan usaha awal sebesar Rp. 55.000.000,-.

Bagian 8 : E-commerce
Rencana E-commerce
E-Comerce sudah dilakukan / dikoordinis oleh pihak Franchise sehingga tidak memerlukan rencana e-comerce sendiri agar sesuai dengan standar yang telah diberikan.
Anggaran E-commerce
Anggaran e-Comerce sudah dilakukan oleh pihak Franchise sehingga tidak memerlukan anggaran e-comerce sendiri.
Kompetisi E-commerce
Anggaran e-Comerce sudah dilakukan oleh pihak Franchise, sehingga apabila tetap mengikuti manajemen yang telah dilaksanakan maka akan persaingan terletak pada layanan langsung ke customer.

Bagian 9 : Akuisisi
Prosedur Penyeliikan Mendalam untuk Akuisis
Tidak ada rencana akuisisi, hanya sebagai franchisor saja.

Bagian 11 : Pemasaran
Rencana Pemasaran
Rencana pemasaran akan diarahkan ke tempat – tempat seperti sekolah dan perumahan dimana terdapat banyak anak – anak dan potensial market untuk crepes termasuk di depan toko serba ada (alfamart, indomaret).
Rencana Iklan dan Promosi
Tidak memerlukan iklan dan promosi karena sudah lakukan oleh pihak Franchise.
Pembelian dan Kontrol Inventaris
Pembelian dan kontrol inventaris sesuai dengan paket yang di tawarkan oleh pihak franchise dan apabila BEP sudah tercapai baru akan mengambangkan investasi kembali.
Kebijakan Pelatihan
Pelatihan dilaksanakan dan dikoordinir serta di koordinasikan dengan pihak Franchise di karenakan sudah dalam satu paket pembelian inventaris.
Kompetisi
Banyaknya Franchise makanan ringan tentunya memiliki pangsa pasar masing – masing sehingga diperlukan strategi untuk dapat mengembangkan peluang keberhasilan dalam pendapatan, misalkan melakukan penjualan dengan gerobak sepeda sehingga apabila pembeli sepi dapat berpindah ke tempat lain yang mungkin lebih ramai dengan konsepnya adalah mencari potensi pasar dengan peluang income yang lebih baik.
Bagaimana Saya Merencanakan Mengambil Keuntungan dari Kelemahan Kompetitor
Konsep menjemput pelanggan dengan melakukan mobilitas mencari peluang pasar yang besar terutama pada tempat – tempat keramaian akan meningkatkan daya jual yang lebih kompetitif dibandingkan dengan menunggu peluang disatu tempat saja, dan banyak kompetitor yang lebih cenderung menggunakan penjualan dengan menetap pada satu tempat saja sehingga potensi penjualan menjadi sangat kecil.

0 komentar:

Posting Komentar